nilai surat-suratan di jakarta

banyak sekali kita berurusan dengan surat menyurat di jakarta, segala sesuatu pasti berkaitan dengan surat-suratan, kalo bisa di sebut adalah pertama kali lahir di dunia ini aja udah harus di urus surat-surat nya (baca: akte kelahiran), lalu kalo sakit ke rumah sakit, juga pasti dibuatkan surat-surat nya (baca: administrasi pasien), ga pelak ketika memiliki sesuatu juga pasti harus disertai surat-surat nya, misal memiliki kendaraan bermotor harus dijaga surat-suratnya (baca: STNK, SIM) apalagi dalam pekerjaan, pasti banyak berurusan dengan surat-suratan (baca: keterangan kerja, referensi) sampai pada di penghujung riwayat kita, juga harus di urus surat-surat nya (baca: surat kematian, surat kubur)

memang surat selalu menyimpan nilai, dari kertas polos kecil maupun besar (baca: kwitansi, saham), kadang uang pun bisa di sebut surat alias surat transaksi (jaman bahala kali nih), banyak juga kita bergantung pada surat-surat tersebut, gimana tidak kalo memiliki barang harus lengkap dengan surat-surat, berarti tidak ada nya surat-surat tersebut bisa meng-arti-kan tidak berharga barang-barang yang kita miliki tersebut.

Rumah jika tidak ada surat-surat nya (baca: SHM, HGB) maka tidak memiliki kekuatan baik dari segi harga maupun keberadaannya, jika di jual maka segan dibeli, jika di gusur maka susah di ganti-rugi. Jakarta apalagi kota besar ini selalu rentan terhadap surat-suratan, pengendara rentan jika tidak memiliki surat-suratan, bahkan diri kita sendiri rentan jika tidak memilik surat identitas diri.

disinilah celah kerentanan indonesia dalam hal ketertiban dan hukum, jalan2 bawa motor bisa jadi tanpa ID dan surat-surat yang jelas, bahkan surat-surat yang lama pun (baca: kadaluarsa) juga ga dipeduliin untuk di perpanjang, alasannya mahal, repot, jauh ngurusnya, dst

ini semua emang balik lagi ke patuhan dan kemudahan bagi masyarakat untuk memperhatikan hukum, masyarakat keliatannya sudah alergi terhadap hukum, hukum ga dihormatin lantaran pelaku hukum tidak memiliki cukup wibawa untuk menjadi panutan.

lampu merah di langgar, helm ga digunakan, satu arah diterobos, begitulah jakarta, salah dimana pun ga ada orang yang peduli, “yookkk kita manfaatin aja kondisi yang ada” haha …

ada setuju atau sepaham ?

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s