Boneka Vs Robot

perlu di informasikan di awal, bahwasanya bahasan ini hanya seputar perusahaan/perkantoran atau sejenisnya di kota Jakarta.

banyak orang bilang karyawan adalah buruh secara umumnya, namun adapula yang lebih men-define lebih detail mengatakan karyawan yang gaji pokok nya dibawah 2jt adalah buruh, pasalnya kebutuhan hidup di Jakarta sekitar 1,8 – 2,5 juta, tapi kebutuhan yang kayak apa juga tidak pernah disebut lengkap, tapi memang nyata nya orang yang tingkat kehidupan nya dibawah rata-rata cukup lah banyak, mereka itupun mengaku punya pekerjaan.

dari sehari-hari kita lihat di lapangan, tukang sapu dijalan-jalan jugalah pekerjaan, supir/kondektur angkot juga pekerjaan, tukang gali kabel pun pekerjaan, bahkan pemulung juga merupakan pekerjaan disamping tukang jualan seperti kaki lima dipasar2 juga termasuk didalamnya.

semua jenis pekerjaan yang ada sekarang ini punya kategorisasi tergantung kemampuan dan keilmuan yang dimiliki si pekerja, contoh karyawan berdasi yang bekerja dibelakang meja dengan laptop dan sepatu mengkilap di ruang ber-AC (tentunya tidak berbaju singlet dan celana pendek) pastilah memiliki kemampuan dan keilmuan yang lebih tinggi, paling tidak nasib yang menempatkan mereka pada kondisi lebih baik dibanding pekerja yang bekerja dibawah terik matahari menggendong keranjang dan bersandal jepit (tentunya berbaju singlet bolong2 pula dan celana rombeng) yang berjalan dari rumah ke rumah untuk mengais botol/gelas minuman bekas.

khusus di contoh pertama, bahwa bekerja di ruang ber-AC dan berdasi dilengkapi laptop dan bersepatu mengkilap juga tidak selalu dikategorikan ‘sejahtera‘, pasalnya bisa jadi mereka itu ‘berperan’ sebagai ‘boneka‘ atau bisa jadi sebagai ‘robot‘ perusahaan.

Robot yang selalu bekerja sebaik mungkin yang selalu berorientasi bagaimanapun caranya harus menghasilkan keuntungan bagi perusahaan dan tidak begitu penting memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri, yang terpenting perusahan untung dan kredibilitas dirinya adalah yang terbaik bagi perusahaan. Banyak karyawan pun tidak menyadari kondisi seperti ini, kondisi dimana hingga akhirnya akan menjadi Stress jika kegagalan yang didapat dan kehadirannya sudah tidak lagi diinginkan, PHK lah puncaknya. Robot pun selalu bersedia mengerjakan apapun tanpa memikirkan alasan dan tujuan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut, yang dia camkan dikepala hanya momok deadline, sisanya bukan urusannya.

Boneka beda lagi, dia selalu bersedia diatur baik secara general maupun detil, bahkan parahnya setiap perkataannya bisa jadi adalah corong panjang dari atasan teratas, bagaikan boneka (puppet) yang sering kali dimainkan oleh negara2 adidaya terhadap negara2 kecil untuk menguasai dan mengeksplotasi secara masiv, yang intinya bagaimanapun juga semua harus menjadi boneka sehingga mudah diatur dan yang lebih menyenangkan lagi adalah ‘uji-coba‘, jika gagal pun bisa langsung ditinggalkan dan dilupakan, kemudian tunjuk boneka baru untuk ber-experimen kembali. Boneka selalu siap berkorban bahkan berinisiatif merugikan diri sendiri demi ucapan ‘kamu adalah orang inti perusahaan ini, jika yang lain resign pun, kami tidak peduli, kamu hebat, saya suka kamu’ si dalang.

memang benar jika pengalaman itu adalah guru yang hebat, kalo emang sudah punya pengalaman seperti itu ya jangan di ulangi lagi, biar pengalaman itu sendiri tidak berkurang hebatnya (apaaaaaa coba??)

nah, kalo kita kembali ke karyawan, sungguh pun haruslah jeli dalam memilih-milih tempat kerja ataupun menerima pinangan dari perusahaan lain (kapan ya gue kyk gini? hehe). Karena idealnya kita dalam bekerja juga harusnya memperhatikan kesejahteraan diri maupun keluarga kita, agar seimbang juga untuk hak-hak keluarga.

Ingat, semua yang ada dimuka bumi ini awalnya seimbang indahnya. Indah ketika sawah dapat pengairan yang baik, Indah ketika hutan dijaga kelestariannya, Indah ketika jumlah kendaraan dibatasi, Indah ketika birokrasi berjalan sesuai prosedur yang halal, Indah ketika atasan-bawahan saling menjaga hak dan kewajibannya, Indah ketika kesejahteraan masing-masing cukup tercapai, sehingga tidak ada lagi istilah ‘buruh‘ maupun ‘dalang‘.

nah, pertanyaan nya adalah
sekarang Anda merasa diposisi yang mana?
jika masih ada konflik antara akal dan hati dalam menjawab,
berarti Anda belum ‘sejahtera‘.

peace y’all.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s